Pages

Monday, November 5, 2012

Kekaguman seorang suami

Kekaguman Seorang Suami

Suatu malam Nia terbangun dan melihat suaminya sedang berdiri di sisi Boks bayi mereka. Nia belum pernah melihat ekspresi wajah suaminya seperti itu sebelumnya.
Kadang-kadang tersenyum sambil menggelengkan-gelengkan kepala, tampak kagum, lalu seperti terharu, terus menarik nafas panjang dan seterusnya.

Diam-diam air mata menetes di kedua mata Nia. 
Ia tak menyangka suaminya akan mengagumi bayi mereka seperti itu.
Nia menghampiri suaminya, bertanya, "Mas, apa sih yang Mas pikirkan?"

Kata sang suami "Ini..., aku benar-benar nggak habis pikir, Boks seperti ini aja kok ya harganya sampai tiga juta."

Glenn berlari saat semua orang berjalan

Glenn Cunningham berumur delapan tahun ketika ia mengalami kecelakaan. Ia dan kakaknya Floyd sedang menyalakan tungku pemanas sekolah ketika tiba-tiba tungku tersebut meledak dan menewaskan Floyd.

Glenn sedang berada di pintu sehingga ia selamat, tapi ketika menyadari bahwa Floyd masih di dalam, Glenn berlari masuk untuk menyelamatkannya. Ia gagal, bahkan kedua kakinya terbakar hebat. Kedua kakinya menjadi lumpuh dan tidak bisa merasakan apa pun.

Dokter menyarankan agar kedua kakinya diamputasi, tapi sambil menangis Glenn memohon agar kakinya tidak dipotong.
Orang tuanya tidak tega dan menuruti keinginannya sehingga kakinya selamat dari amputasi. Dalam hatinya, Glenn bertekad suatu saat ia akan dapat berjalan lagi.

Kedua kaki Glenn bengkok dan semua jari kaki kirinya hilang. Setelah perban dibuka, kedua orang tuanya bergiliran mengurut kakinya setiap hari meskipun hampir tak ada perubahan. Tapi beberapa bulan kemudian Glenn mencoba berdiri dan berjalan dengan dibantu oleh ayahnya.

Kakinya tetap diurut setiap hari dan kemudian Glenn Cunningham, yang tadinya kata dokter 'tidak mungkin dapat berjalan lagi', kini bisa berjalan. Glenn masih merasa kakinya lemah sehingga ia ingin menguatkan kakinya. Ia mulai berlari pada setiap kesempatan.

Ia berlari ke sekolah, ia berlari ketika mengikuti paduan suara, ia berlari ke toko daging, ia berlari di lapangan, ia berlari mencari kayu bakar dan berlari pulang dengan kedua tangan penuh kayu. Ia tidak pernah berjalan apabila ia bisa berlari.

Lima tahun kemudian, ketika berumur 13 tahun, ia memenangkan gelar juara lari di Morton County Fair. Sejak itu ia semakin sering mengikuti kejuaraan lari dan selalu berhasil menjadi pemenang. Glenn Cunningham menjadi juara lari bukan karena kakinya kuat, bahkan kaki itu pernah hampir dibuang.

Glenn menjadi juara karena ia berlari pada saat semua orang berjalan.
(August 4, 1909 – March 10, 1988)
Glenn memenangkan Penghargaan Sullivan 1933 untuk keberhasilannya dalam memenangkan beberapa perlombaan lari jarak menengah.

Olimpiade 1932, Urutan ke 4 Lari 1500m
Olimpiade 1936 Berlin, Urutan ke 2 Lari 1500m (medali perak)

Tahun1934, Glenn mencatatkan namanya pada record Dunia untuk Lari 1 Mil, 4 Jam 6 Menit dan 8 Detik yang bertahan selama 3 tahun.
Tahun 1936, Glenn kembali mencatatkan namanya pada rekor dunia Lari 800m.
Tahun 1938, Glenn mencatatkan rekor dunia pada Lari 1 mil indoor, 4 jam 4 menit dan 4 detik. Kemudian Glenn pensiun. Rekor ini baru bisa dipecahkan kembali oleh Roger Bannister pada tahun 1954.

Angsa Putih

ANGSA PUTIH
Hanya seekor angsa putih yang berenang di sebuah kolam sendirian. Dia sendiri bukan karena tidak ada
angsa lain di kolam itu, melainkan dia merasakan satu keindahan dari sendiri itu. Angsa putih tak seistimewa angsa bermahkota, ataupun angsa yang berbulu emas, namun dia tetap menyukai dirinya sendiri sebagai "angsa putih".

Angsa bermahkota pernah mencoba bertanya, "Putih...apa kamu tidak kesepian selalu menyendiri?" dgn senyum Angsa putih menjawab "Tidak, ada banyak yg bisa dikatakan sepi padaku, hanya dengan sendiri aku bisa mendengarkan suara-suara bijak lebih jelas, hanya dalam sepi aku bisa lebih jelas mendengarkan suara-suara merdu yang bisa membuatku ikut bernyanyi".
Angsa berbulu emas juga pernah bertanya "Apa kamu bisa menikmati hidup kamu yang sebentar ini dengan cara begini terus?" Angsa Putih menjawab dengan yakin

"Aku bisa menikmati tiap detik waktuku disini, karena aku melihat semua yang ada disini dari sisi terang".

Angsa berbulu emas mencibir "Kamu bohong!"

Angsa Putih menggelengkan kepalanya

"Kalau aku tidak bisa menikmati tiap detik waktuku disini, aku tidak akan bertahan dengan cara seperti  ini, aku tidak akan bisa bicara seperti ini. Aku  akan terus berenang mengikuti arus, karena aku tahu,  tidak ada gunanya menentang arus. Tidak akan membawa  perubahan."

Angsa bermahkota menggeleng-gelengkan kepalanya,  lalu berkata "Angsa putih kenapa aku tidak pernah merasakan apa  yang kamu rasakan? Aku tidak bisa hidup sepertimu"

Angsa putih segera menjawabnya "Karena kita memang memiliki jalan yang berbeda,  kamu tidak harus seperti aku, dan aku juga tidak  harus seperti kamu. Kamu jadilah diri kamu dengan  baik, begitupun dengan aku".

"Tapi kenapa Angsa Putih?" potong Angsa berbulu emas "Ikhlas.." jawab Angsa Putih,

"Aku tidak mengerti" sahut Angsa bermahkota "Ikhlas dengan yg terjadi pada diri kita. Jika badai  datang biarlah datang, yang harus kita lakukan hanya  mempersiapkan diri menghadapi badai itu".

"IKHLAS?" ulang Angsa bermahkota dan Angsa berbulu emas bersamaan dengan intonasi ditekan.

 Angsa Putih mengangguk, "Ikhlas" ulangnya.

 Sedikit dari kita yang belajar dari kata "IKHLAS"dalam menghadapi kerasnya hidup ini.