Pages

Tuesday, October 9, 2012

Bersyukur dan Merasa Cukup hari ini

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin.Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.
Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang. 
”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.
Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau.

Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya. Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik
hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.
Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah, ”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.
Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya. “Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”
”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar
sekali lagi. 
”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.
”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.
Si anak kecil tersenyum dengan manis, ”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh, ”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”,
Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia
adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”

Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali, ”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”. Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.

”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

(Dari kiriman teman).

Rapuh

****dapat dari milis ***

Dalam Belakangan ini saya sedang belajar dari putri saya yang baru lahir.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari bayi, bayi adalah sosok yang unik mereka tidak berdaya tetapi memiliki daya tarik yang luar biasa, selalu bisa membuat orang jatuh hati ketika menatap dan bersentuhan dengannya.
Dari bayi mungil ini saya mendapat beberapa hikmah yang menurut saya makin luntur pada saat kita semakin bertumbuh seiring waktu yang berjalan. Bayi adalah manusia, yang merupakan bibit dari generasi manusia yang akan datang, bayi itu rapuh, seperti manusia yang sebenarnya adalah rapuh, tidak perduli dia pejabat, Pengemis, Ulama, Supir bis, pekerja kantor atau siapa pun, walau terkadang kita tampak begitu tegar, pada dasarnya manusia memiliki titik rapuhnya masing-masing.
Apakah seorang pejabat itu kuat, atau seorang pemuka agama itu tegar, mungkin sekilas terlihat seperti itu, tapi mereka hanya manusia biasa yang juga memiliki titik rapuh, karena mereka adalah manusia biasa.
Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri.
Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari mental dan kepribadian, serta keimanan seseorang.
 
Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya.
Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi. Orang yang kuat mental dan kepribadian, serta keimanan, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup.
Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia menyerah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya.
Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar.
Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang.
Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan.
Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya.
Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya dihadapan Allah.
Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima. Kita mungkin juga termaksud saya nampak utuh dari luar, namun terkadang rapuh di dalam. Tak selalu yang tampak di luar selaras dengan apa yang ada di dalam.
Manusia memang lazim memakai "topeng". Mungkin itulah sebabnya kata personality alias kepribadian itu berasal dari suatu kata dalam Bahasa Yunani yang berarti topeng.
Topeng yang kita gunakan ketika kita bersentuhan dengan individu-individu lain di dunia kita masing-masing. Topeng yang menggambarkan seperti apa kita ingin dipandang, untuk menutupi rapuhnya diri kita. Mencari contoh penggunaan topeng itu bukanlah pekerjaan sulit. Banyak kejadian-kejadian ringan di keseharian yang dapat dijadikan cermin.
Seorang bawahan bisa saja tersenyum dan mengangguk ketika atasannya mengeluarkan suatu kebijakan yang sebenarnya tidak sesuai dengan nuraninya karena takut kehilangan pekerjaan.
Seorang pemuda ketika ditanya oleh kekasihnya, Aku sekarang gemuk ya? dapat jadi memilih berkata Ah, nggak kok. Kamu cantik kok, demi menyenangkan hati pacarnya itu.
Masih banyak hal-hal lain yang dapat mencontohkan ketidaksesuaian antara yang terpendam di hati dan yang nampak di luar.
Sebaliknya melepas topeng bukanlah hal yang mudah. Butuh keberanian yang luar biasa untuk menampakkan sisi terapuh dalam diri kita, karena hal itu menunjukan kerapuhan pada diri kita. Beranikah anda membuka topeng dan menampakkan siapa sebenarnya diri anda, atau anda akan terus terjebak dalam manipulasi kerapuhan diri anda dengan terus menggunakan topeng atau mengganti topeng lagi sesuai dengan keadaan, seperti belajar dari bayi kecil yang tidak menggunakan topeng, dan menampakan keluguaan dan keasriannya sehingga menimbulkan kedamaian dalam hidup...
tapi semua berpulang kepada anda sendiri yang mana yang anda pilih membuka topeng kepribadian palsu atau menunjukan identitas anda seburuk apapun, sebaik apapun, dan melakukan perubahan pada diri sendiri menuju kebaikan bukan mengganti topeng secara instan..

Kamu rapuh Umpama ranting di bawah pohon Yang kering dan sering terinjak 
Kamu rapuh Bagaikan daun kering coklat yang kering dan tua Menggemburkan tanah
Tapi kamu begitu kuat Seperti angin yang sanggup meruntuhkan menara Menggerus bebatuan hingga mengerikil Karena kamu Hanyalah manusia Yang biasa saja.
Mampu menangis dan tertawa 
Mampu menjadi setan atau lebih mulia dari malaikat 
Dan karena kerapuhan dan kekuatanmu itulah 
Dan karena engkau manusia biasa Yang tak punya daya apa pun selain dari-Nya
Bukankah duniapun mengerti, Alampun sadari, Nuranipun akui, Aku dan dirimu, Hanya manusia rapuh
Di antara kerlip jutaan bintang
Di antara desah nafas jutaan nyawa
Di antara birunya laut dan merahnya matahari
Di antara tawa dan tangis Ya, kau dan diriku
Sebab kamu Juga aku Hanyalah manusia biasa.

Menangis... Should I ?

"Ketika Kita Menangis secara tidak sadar kita telah menurunkan level depresi atau stress kita, karena dengan menangis kita membebaskan perasaan kita,sehingga dapat meningkatkan mood kembali.
Tapi jangan keseringan menangis, itu namanya cengeng."
Sumber